SEJARAH SINGKAT KERAJAAN/KESULTANAN BACAN
SEJARAH SINGKAT KERAJAAN/KESULTANAN JAILOLO
Kesultanan Jailolo secara utuh dari raja pertamanya “Kolano
Daradjati”. Daftar sisilah raja-raja Jailolo tersebut terdiri dari tiga
bagian. Lembaran besar adalah uraian daftar sisilah yang skemanya
diuraikan seperti “pohon terbalik” yang seluruh tulisan nama-namanya
beraksara Arab, satu lembar lagi adalah salinan ulang yang juga dalam
aksara Arab namun lebih diperinci dan diperjelas dengan melingkari
tiap-tiap nama yang tertera karena lembaran aslinya sudah hampir lapuk,
sedangkan satu lagi lembar kecil bertuliskan huruf arab dan yang
berlafadz-kan bahasa Tidore adalah Surat Keterangan yang manjelaskan
tentang daftar sisilah tersebut.
Sebelum
Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah dinobatkan menjadi
Sultan Jailolo masa kini, para keturunan Sultan Doa yang tersebar di
mana-mana yakni di Tidore (Soa Sambelo, Mareku dan Toloa), pulau Ternate
(Dufa-Dufa), pulau Moti, pulau Makian dan di pulau Ambon sesuai alur
dalam daftar sisilah tersebut, mereka seakan telah menutup diri untuk
memikirkan “ke-Jailolo-an” nya. Bagi mereka itu semua adalah bagian dari
masa lalu. Mungkin yang mereka pikirkan adalah; Cukup kami anak-cucu
tahu bahwa nenek moyang kami memang berasal dari Jailolo, itu saja. Dan
mungkin juga semboyan latin; “Ibi Bene Ubi Patria – yang berarti ;
Dimana hidupku senang di situlah tanah airku” yang ada dalam pikiran
mereka, Wallahu wa’lam. Hanya mereka yang tahu. Apalagi setelah
dinobatkannya Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah menjadi
“symbol” kesultanan Jailolo modern, membuat ke-tertutup-an mereka
semakin rapat. Mengingat hampir semua dari mereka tahu bahwa keturunan
Sultan Doa hijrah ke pulau Tidore dan menjadi kawula kesultanan Tidore
dan diberikan sebuah kawasan untuk membangun pemukiman (Soa Sambelo –
Sabua ma belo) waktu itu adalah akibat dari pergolakan politik intern
antar bangsawan di istana Jailolo ketika itu, beliau menyingkir
meninggalkan takhtanya dengan tujuan menghindari perang saudara dan
pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi yang bisa mengancam
kelangsungan dan kehormatan Buldan Jailolo di Limau Tagalaya – Jailolo.
Muhammad Arif Bila (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam)
adalah keturunan ke-8 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam adalah nenek
moyang keturunan kedelapan ke atas dari Sultan Gugu Alam alias Muhammad
Arif Bila – Ada beberapa nama yang sama dalam sisilah ini, namun pada
jenjang dan periode yang berbeda waktunya. Prins Gugu Alam adalah adalah
adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Prentah. Mereka bertiga adalah
anak dari Sultan Yusuf , Sultan Jailolo yang menjadi Sultan Jailolo di
tanah Jailolo (Limau Tagalaya) sekitar tahun 1500-an, data tahun yang
tepat belum bisa dipastikan.
Muhamad Arif Bila memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif
Bila yakni Syah Yusuf (lain dengan Sultan Yusuf yang ayahnya Sultan Doa,
beda periode) adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di
desa Tahane. Muhammad Arif Bila sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari
Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo I (pada periode kedua sejarah
kronologis kesultanan Jailolo) beliau sebelumnya menjabat sebagai
Sangadji Tahane. Setelah itu selama sekitar 13 tahun jabatannya
meningkat menjadi Jogugu kesultanan Tidore pada saat berkuasanya Sultan
Kamaluddin dari Tidore (1784-1797) yang tidak lain adalah kakak dari
Nuku. Ketika Nuku baru menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Bila
adalah seorang panglima yang handal.
Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo I
(sebutan menurut catatan dari sumber Belanda), tidak semua orang di
pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo,
lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai Sultan Jailolo ini
(sejak tahun 1637 hingga 1918 saat dibuang ke Cianjur) mereka tidak
pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, melainkan hanya
menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera
belakang termasuk juga juga di pulau Seram.
Sejarah Kabupaten Halmahera Selatan berawal dari sejarah tentang
“Jazirat al-Mulk”yaitu nama kepulauan di ufuk timur bagian utara dari
kepulauan Indonesia. Istilah“Jazirat al-Mulk” yang diberikan para
saudagar Arab ini mempunyai arti: negeri raja-raja. Selain itu, dikenal
juga, istilah“Jazirah tuil Jabal Mulku“ dengan Pulau Halmahera sebagai
pulau induk dari di kawasan ini.
Dari kata Muluk dan Mulku inilah yang kemudian menjadi Moluco menurut
ucapan dan ortografi orang Portugis, Moluken menurut orang Belanda dan
terakhir orang Indonesia sendiri disebut Maluku.
Catatan sejarah tentang “Jazirah tuil Jabal Mulku“ berlanjut dengan
kemunculan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di
Maluku) yang terdiri atas:
1. Kesultanan Bacan
Bacan,arti harfiahnya adalah:(mem-) baca. Kesultanan Bacan adalah
suatu kerajaan yang berpusat di Pulau Bacan, Kepulauan Maluku. Raja
Bacan pertama yang memeluk Islam adalah Raja Zainulabidin yang
bersyahadat pada tahun 1521. Meski berada di Maluku, wilayahnya cukup
luas hingga ke wilayah Papua. Banyak kepala suku di wilayah Waigeo,
Misool dan beberapa daerah lain yang berada di bawah administrasi
pemerintahan kerajaan Bacan.
Sultan Ternate
yaitu Sultan Musaffar Syah menyatakan bahwa makna dari“ bacan” atau
“membaca” adalah memasukkan sesuatu, atau usaha sadar yang dilakukan
seseorang untuk memasukkan sesuatu ke dalam otaknya untuk
menjadipengetahuan. Makna tersebut tidak bisa dilepaskan juga dengan
tugas dan fungsi Sultan
Bacan dalam Kesultanan Moloku Kie Raha yaitu: memasok logistik. Bacan
dalam beberapa manuskrip sejarah sering juga ditulis sebagai Bachian,
Bachanatau Batjan; dan diduga sudah eksis sejak tahun 1322. Kesultanan
Bacan berpusat di Pulau Bacan. Wilayah Kesultanan Bacan pada saat
jayanya cukup luas, yaitu dari Maluku hingga ke wilayah Papua.Banyak
kepala suku di wilayah Waigeo, Misool dan beberapa daerah lain berada di
bawah administrasi pemerintahan Kesultanan Bacan pada masa jayanya.
Pengaruh bangsa Eropa pertama di Pulau Bacan diawali oleh Portugis
yang kemudian membangun benteng pada tahun1 558. Bernevald Fort adalah
benteng Portugis yang masih utuh berdiri di Pulau Bacan sampai sekarang.
Pada tahun16 09 benteng ini diambil alih oleh VOC
yang menandai awal penguasaan Hindia Belanda di Pulau Bacan. Pada tahun1
889 sistemmo narki Kesultanan Bacan diganti dengan sistem
kepemerintahan di bawah kontrol Hindia Belanda.
Pulau Bacan tidak hanya mempunyai peran dalam produksi cengkeh dan
pala pada masa itu, akan tetapi juga menjadi pusat kontrol atas produksi
dan distribusi cengkeh dan paladi Ternate, Tidore, Moti, Makian dan
Halmahera.Peninggalan Kesultanan Bacan
Masjid Kesultanan Bacan
Masjid ini berlokasi di desa Amasing-Bacan, masjid ini dibangun sekitar tahun 1901 masehi diatas lahan seluas 6.020 Meter persegi dengan ukuran bangunan masjid 29,9 x 24 Meter. Arsitektur pembangunan masjid ialah arsitek dari Jerman bernama Cronik Van Hendrik yang pada masa pemerintahan sultan Muhammad Sadek. Tinggi Bangunan masjid dari dasar pondasi sampai ujung kubah ialah 12,850 Meter dan terdapat satu pintu gerbang dengan 17 pintu masuk keruang masjid. Di bagian dalam terdapat 4 buah tiang Kabbah, satu buah mimbar, 1 kamar tempat sholat Sultan disebelah kanan mimbar Utama. Konstruksi bangunan menggunakan baha dasar kayu, batu, Pasir, dan kapur. Pada bagian depan masjid terdapat bangunan balai pertemuan yang dipergunakan oleh para baboto negeri untuk memebahas permasalahan peribadatan dan kemasyarakatan. Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1960 masehi masa pemerintahan Sultan Usman Syah, dengan melakukan penggantian atap sirap ke atap seng dan membangun lima buah corong pada dasar kubah untuk menyebarkan kumandang azan. Tahun 2001 masa pemerintahan Sultan Gahral Syah, dilakukan perluasan bangunan mencapai ukuran 12,45 x 24,15 meter. Pengurus masjid ini seluruhnya berjumlah 45 orang dengan dipimpin oleh 1 orang Qodhi dan 4 Imam. Setiap imam masing-masing membawahi 2 Khatib dan Muadzin.
Memang ada berbagai versi tentang kapan berdirinya dan lain halnya yang tidak saya mengerti . Silahkan anda cari dari sumber lainnya atau mau datang langsung ke pulau bacan , pulau yang indah nan eksotis tempat saya di besarkan .
Nun incana gunung sibela
Nun incana kali mandaong
Di situ tampana mama nag papaku
situ tampana dangang lara ...
SEJARAH SINGKAT KERAJAAN/KESULTANAN JAILOLO
Kesultanan Jailolo secara utuh dari raja pertamanya “Kolano
Daradjati”. Daftar sisilah raja-raja Jailolo tersebut terdiri dari tiga
bagian. Lembaran besar adalah uraian daftar sisilah yang skemanya
diuraikan seperti “pohon terbalik” yang seluruh tulisan nama-namanya
beraksara Arab, satu lembar lagi adalah salinan ulang yang juga dalam
aksara Arab namun lebih diperinci dan diperjelas dengan melingkari
tiap-tiap nama yang tertera karena lembaran aslinya sudah hampir lapuk,
sedangkan satu lagi lembar kecil bertuliskan huruf arab dan yang
berlafadz-kan bahasa Tidore adalah Surat Keterangan yang manjelaskan
tentang daftar sisilah tersebut.
Sebelum
Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah dinobatkan menjadi
Sultan Jailolo masa kini, para keturunan Sultan Doa yang tersebar di
mana-mana yakni di Tidore (Soa Sambelo, Mareku dan Toloa), pulau Ternate
(Dufa-Dufa), pulau Moti, pulau Makian dan di pulau Ambon sesuai alur
dalam daftar sisilah tersebut, mereka seakan telah menutup diri untuk
memikirkan “ke-Jailolo-an” nya. Bagi mereka itu semua adalah bagian dari
masa lalu. Mungkin yang mereka pikirkan adalah; Cukup kami anak-cucu
tahu bahwa nenek moyang kami memang berasal dari Jailolo, itu saja. Dan
mungkin juga semboyan latin; “Ibi Bene Ubi Patria – yang berarti ;
Dimana hidupku senang di situlah tanah airku” yang ada dalam pikiran
mereka, Wallahu wa’lam. Hanya mereka yang tahu. Apalagi setelah
dinobatkannya Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah menjadi
“symbol” kesultanan Jailolo modern, membuat ke-tertutup-an mereka
semakin rapat. Mengingat hampir semua dari mereka tahu bahwa keturunan
Sultan Doa hijrah ke pulau Tidore dan menjadi kawula kesultanan Tidore
dan diberikan sebuah kawasan untuk membangun pemukiman (Soa Sambelo –
Sabua ma belo) waktu itu adalah akibat dari pergolakan politik intern
antar bangsawan di istana Jailolo ketika itu, beliau menyingkir
meninggalkan takhtanya dengan tujuan menghindari perang saudara dan
pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi yang bisa mengancam
kelangsungan dan kehormatan Buldan Jailolo di Limau Tagalaya – Jailolo.
Muhammad Arif Bila (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam)
adalah keturunan ke-8 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam adalah nenek
moyang keturunan kedelapan ke atas dari Sultan Gugu Alam alias Muhammad
Arif Bila – Ada beberapa nama yang sama dalam sisilah ini, namun pada
jenjang dan periode yang berbeda waktunya. Prins Gugu Alam adalah adalah
adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Prentah. Mereka bertiga adalah
anak dari Sultan Yusuf , Sultan Jailolo yang menjadi Sultan Jailolo di
tanah Jailolo (Limau Tagalaya) sekitar tahun 1500-an, data tahun yang
tepat belum bisa dipastikan.
Muhamad Arif Bila memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif
Bila yakni Syah Yusuf (lain dengan Sultan Yusuf yang ayahnya Sultan Doa,
beda periode) adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di
desa Tahane. Muhammad Arif Bila sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari
Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo I (pada periode kedua sejarah
kronologis kesultanan Jailolo) beliau sebelumnya menjabat sebagai
Sangadji Tahane. Setelah itu selama sekitar 13 tahun jabatannya
meningkat menjadi Jogugu kesultanan Tidore pada saat berkuasanya Sultan
Kamaluddin dari Tidore (1784-1797) yang tidak lain adalah kakak dari
Nuku. Ketika Nuku baru menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Bila
adalah seorang panglima yang handal.
Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo I
(sebutan menurut catatan dari sumber Belanda), tidak semua orang di
pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo,
lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai Sultan Jailolo ini
(sejak tahun 1637 hingga 1918 saat dibuang ke Cianjur) mereka tidak
pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, melainkan hanya
menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera
belakang termasuk juga juga di pulau Seram.
SEJARAH SINGKAT KERAJAAN/KESULTANAN JAILOLO
Kesultanan Jailolo secara utuh dari raja pertamanya “Kolano
Daradjati”. Daftar sisilah raja-raja Jailolo tersebut terdiri dari tiga
bagian. Lembaran besar adalah uraian daftar sisilah yang skemanya
diuraikan seperti “pohon terbalik” yang seluruh tulisan nama-namanya
beraksara Arab, satu lembar lagi adalah salinan ulang yang juga dalam
aksara Arab namun lebih diperinci dan diperjelas dengan melingkari
tiap-tiap nama yang tertera karena lembaran aslinya sudah hampir lapuk,
sedangkan satu lagi lembar kecil bertuliskan huruf arab dan yang
berlafadz-kan bahasa Tidore adalah Surat Keterangan yang manjelaskan
tentang daftar sisilah tersebut.
Sebelum
Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah dinobatkan menjadi
Sultan Jailolo masa kini, para keturunan Sultan Doa yang tersebar di
mana-mana yakni di Tidore (Soa Sambelo, Mareku dan Toloa), pulau Ternate
(Dufa-Dufa), pulau Moti, pulau Makian dan di pulau Ambon sesuai alur
dalam daftar sisilah tersebut, mereka seakan telah menutup diri untuk
memikirkan “ke-Jailolo-an” nya. Bagi mereka itu semua adalah bagian dari
masa lalu. Mungkin yang mereka pikirkan adalah; Cukup kami anak-cucu
tahu bahwa nenek moyang kami memang berasal dari Jailolo, itu saja. Dan
mungkin juga semboyan latin; “Ibi Bene Ubi Patria – yang berarti ;
Dimana hidupku senang di situlah tanah airku” yang ada dalam pikiran
mereka, Wallahu wa’lam. Hanya mereka yang tahu. Apalagi setelah
dinobatkannya Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah menjadi
“symbol” kesultanan Jailolo modern, membuat ke-tertutup-an mereka
semakin rapat. Mengingat hampir semua dari mereka tahu bahwa keturunan
Sultan Doa hijrah ke pulau Tidore dan menjadi kawula kesultanan Tidore
dan diberikan sebuah kawasan untuk membangun pemukiman (Soa Sambelo –
Sabua ma belo) waktu itu adalah akibat dari pergolakan politik intern
antar bangsawan di istana Jailolo ketika itu, beliau menyingkir
meninggalkan takhtanya dengan tujuan menghindari perang saudara dan
pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi yang bisa mengancam
kelangsungan dan kehormatan Buldan Jailolo di Limau Tagalaya – Jailolo.
Muhammad Arif Bila (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam)
adalah keturunan ke-8 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam adalah nenek
moyang keturunan kedelapan ke atas dari Sultan Gugu Alam alias Muhammad
Arif Bila – Ada beberapa nama yang sama dalam sisilah ini, namun pada
jenjang dan periode yang berbeda waktunya. Prins Gugu Alam adalah adalah
adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Prentah. Mereka bertiga adalah
anak dari Sultan Yusuf , Sultan Jailolo yang menjadi Sultan Jailolo di
tanah Jailolo (Limau Tagalaya) sekitar tahun 1500-an, data tahun yang
tepat belum bisa dipastikan.
Muhamad Arif Bila memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif
Bila yakni Syah Yusuf (lain dengan Sultan Yusuf yang ayahnya Sultan Doa,
beda periode) adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di
desa Tahane. Muhammad Arif Bila sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari
Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo I (pada periode kedua sejarah
kronologis kesultanan Jailolo) beliau sebelumnya menjabat sebagai
Sangadji Tahane. Setelah itu selama sekitar 13 tahun jabatannya
meningkat menjadi Jogugu kesultanan Tidore pada saat berkuasanya Sultan
Kamaluddin dari Tidore (1784-1797) yang tidak lain adalah kakak dari
Nuku. Ketika Nuku baru menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Bila
adalah seorang panglima yang handal.
Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo I
(sebutan menurut catatan dari sumber Belanda), tidak semua orang di
pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo,
lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai Sultan Jailolo ini
(sejak tahun 1637 hingga 1918 saat dibuang ke Cianjur) mereka tidak
pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, melainkan hanya
menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera
belakang termasuk juga juga di pulau Seram.
SEJARAH SINGKAT KERAJAAN/KESULTANAN JAILOLO
Kesultanan Jailolo secara utuh dari raja pertamanya “Kolano
Daradjati”. Daftar sisilah raja-raja Jailolo tersebut terdiri dari tiga
bagian. Lembaran besar adalah uraian daftar sisilah yang skemanya
diuraikan seperti “pohon terbalik” yang seluruh tulisan nama-namanya
beraksara Arab, satu lembar lagi adalah salinan ulang yang juga dalam
aksara Arab namun lebih diperinci dan diperjelas dengan melingkari
tiap-tiap nama yang tertera karena lembaran aslinya sudah hampir lapuk,
sedangkan satu lagi lembar kecil bertuliskan huruf arab dan yang
berlafadz-kan bahasa Tidore adalah Surat Keterangan yang manjelaskan
tentang daftar sisilah tersebut.
Sebelum
Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah dinobatkan menjadi
Sultan Jailolo masa kini, para keturunan Sultan Doa yang tersebar di
mana-mana yakni di Tidore (Soa Sambelo, Mareku dan Toloa), pulau Ternate
(Dufa-Dufa), pulau Moti, pulau Makian dan di pulau Ambon sesuai alur
dalam daftar sisilah tersebut, mereka seakan telah menutup diri untuk
memikirkan “ke-Jailolo-an” nya. Bagi mereka itu semua adalah bagian dari
masa lalu. Mungkin yang mereka pikirkan adalah; Cukup kami anak-cucu
tahu bahwa nenek moyang kami memang berasal dari Jailolo, itu saja. Dan
mungkin juga semboyan latin; “Ibi Bene Ubi Patria – yang berarti ;
Dimana hidupku senang di situlah tanah airku” yang ada dalam pikiran
mereka, Wallahu wa’lam. Hanya mereka yang tahu. Apalagi setelah
dinobatkannya Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah menjadi
“symbol” kesultanan Jailolo modern, membuat ke-tertutup-an mereka
semakin rapat. Mengingat hampir semua dari mereka tahu bahwa keturunan
Sultan Doa hijrah ke pulau Tidore dan menjadi kawula kesultanan Tidore
dan diberikan sebuah kawasan untuk membangun pemukiman (Soa Sambelo –
Sabua ma belo) waktu itu adalah akibat dari pergolakan politik intern
antar bangsawan di istana Jailolo ketika itu, beliau menyingkir
meninggalkan takhtanya dengan tujuan menghindari perang saudara dan
pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi yang bisa mengancam
kelangsungan dan kehormatan Buldan Jailolo di Limau Tagalaya – Jailolo.
Muhammad Arif Bila (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam)
adalah keturunan ke-8 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam adalah nenek
moyang keturunan kedelapan ke atas dari Sultan Gugu Alam alias Muhammad
Arif Bila – Ada beberapa nama yang sama dalam sisilah ini, namun pada
jenjang dan periode yang berbeda waktunya. Prins Gugu Alam adalah adalah
adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Prentah. Mereka bertiga adalah
anak dari Sultan Yusuf , Sultan Jailolo yang menjadi Sultan Jailolo di
tanah Jailolo (Limau Tagalaya) sekitar tahun 1500-an, data tahun yang
tepat belum bisa dipastikan.
Muhamad Arif Bila memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif
Bila yakni Syah Yusuf (lain dengan Sultan Yusuf yang ayahnya Sultan Doa,
beda periode) adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di
desa Tahane. Muhammad Arif Bila sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari
Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo I (pada periode kedua sejarah
kronologis kesultanan Jailolo) beliau sebelumnya menjabat sebagai
Sangadji Tahane. Setelah itu selama sekitar 13 tahun jabatannya
meningkat menjadi Jogugu kesultanan Tidore pada saat berkuasanya Sultan
Kamaluddin dari Tidore (1784-1797) yang tidak lain adalah kakak dari
Nuku. Ketika Nuku baru menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Bila
adalah seorang panglima yang handal.
Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo I
(sebutan menurut catatan dari sumber Belanda), tidak semua orang di
pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo,
lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai Sultan Jailolo ini
(sejak tahun 1637 hingga 1918 saat dibuang ke Cianjur) mereka tidak
pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, melainkan hanya
menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera
belakang termasuk juga juga di pulau Seram.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar